Gerry Salim Berikan Tips Pemilihan Ukuran Ban yang Aman

Gerry Salim Berikan Tips Pemilihan Ukuran Ban yang Aman

Home » Stories » Gerry Salim Berikan Tips Pemilihan Ukuran Ban yang Aman
Boyo Maladi | 13 September 2021

Kenapa roda (ban dan pelek) yang dipakai di kejuaraan drag bike di Indonesia rata-rata tapaknya kecil atau kurus? Beda dengan motor yang dipakai di kejuaraan drag di luar negeri. Tapak rodanya ekstra lebar.

Ketika ditanya hal ini, Gerry Salim, pembalap kelahiran Surabaya, 19 April 1997 yang tergabung di 76Rider Supermoto Squad mengatakan, spesifikasi tiap komponen yang dipakai di sebuah kejuaraan balap pasti telah ditentukan oleh organisasi atau federasi yang menaunginya.

"Salah satu tujuannya adalah safety, dengan memperhatikan spesifikasi motor yang dipakai," tutur Gerry yang telah malang melintang di berbagai kejuaraan internasional, mulai Asia Dream Cup (2013), All Japan Championship (2014 - 2015), Asia Talent Cup (2015), Asia Road Racing Championship SuperSport 600cc (2016) dan Asia Road Racing Championship AP 250cc, FIM CEV Moto3 Junior World Championship dan Red Bull Rookies Cup (2018), FIM CEV Moto2 (2019).

Misalnya, Gerry mencontohkan ajang MotoGP.

"Tenaga motor MotoGP itu besar sekali, sudah mencapai 300 hp! Tentu agar motor tak mudah sliding atau tergelincir terutama di tikungan dibutuhkan traksi yang kuat ke aspal. Untuk itu dibutuhkan roda dengan tapak yang lebar," jelas Gerry.

Traksi adalah gaya gesek maksimal antara ban dengan permukaan jalan untuk menghindari selip maupun tergelincir saat dikendarai.

Saat ban dan aspal bersentuhan, ada gaya gesek yang terjadi, seolah ban mencengkram permukaan jalan sehingga tidak terjadi selip. 

Besarnya traksi sendiri tergantung dari tenaga mesin, dimensi roda, beban pada roda terhadap jalan dan koefisien gesek antara roda dengan jalan.

Sebagai gambaran, dari sumber motorsportmagazine.com didapat informasi, di ajang MotoGP saat ini, pabrikan menggunakan roda belakang dengan lebar tapak pelek 6 inci dan 6.25 inci. Sementara untuk roda depan, pilihan lebar tapak pelek yang dipakai adalah 3.5 inci dan 4 inci.

Ukuran pelek menyesuaikan kapasitas mesin motor MotoGP (antara 801 cc hingga 1.000 cc), dan tenaga yang dihasilkan mesin sebesar 300 hp, dengan bobot minimum motor sebesar 157 kg.

Sekarang mari kita bandingkan dengan motor underbone (motor bebek) yang dipakai Gerry saat ikut latihan untuk persiapan PON Papua pada 2 – 15 Oktober 2021 mendatang. 

"Sesuai regulasi yang dipakai di PON untuk cabor balap motor, toleransi untuk naik-turunnya tapak ban ditentukan satu atau dua angka dari ukuran standarnya," jelas Gerry.

Karena basis motor yang dipakai adalah motor bebek produksi massal dengan kapasitas mesin 150cc yang dipakai di jalan raya, dengan ukuran ban sesuai spek pabrik 90/80-17 (depan) dan 120/70-17 (belakang), maka sesuai regulasi, Gerry memilih menaikkan ukuran spek ban belakang dari 120 menjadi 130. Sementara untuk ban depan masih tetap, yaitu 90.

"Awalnya Gerry pengin naik dua angka, atau pakai ban ukuran 140. Tapi karena stok ban enggak ada, akhirnya waktu latihan pakai 130," ungkap Gerry.

Alasannya, dengan tapak ban lebih lebar, Gerry merasa lebih nyaman di tikungan karena lebih stabil, sementara saat top speed, masih tidak terlalu berat.

Dari penjelasan tersebut, Gerry memberi masukan bagi mereka yang mau memodifikasi motor untuk mengambil pendekatan serupa.

"Regulasi di balap ini menurut Gerry paling pas jika dipakai sebagai acuan, yaitu toleransi naik-turun lebar tapak ban paling enggak antara satu sampai dua angka," tutur Gerry. 

Lantas apa pengaruhnya, jika lebar tapak ban dibesarkan atau dikecilkan?

Gerry menuturkan, semakin kecil lebar tapak ban, maka motor akan terasa ringan dan lincah, tapi bidang traksi ke aspal juga ikut berkurang. 

Begitu pula sebaliknya, semakin lebar tapak ban, maka motor akan terasa berat dan stabil di trek lurus, karena bidang traksi ke aspal juga ikut bertambah.

"Untuk pemakaian harian, kita harus perhatikan safety, selain aspek performa dan estetika," tutup Gerry. 



MORE STORIES