Jadi BMX Freestyler Itu Panggilan Hati Dan Bagian Dari Gaya Hidup

Jadi BMX Freestyler Itu Panggilan Hati Dan Bagian Dari Gaya Hidup

Home » Stories » Jadi BMX Freestyler Itu Panggilan Hati Dan Bagian Dari Gaya Hidup
Boyo Maladi | 05 February 2021

Menjadi seorang BMX freestyler itu tidak mudah. Menurut Wendy Purnama Putra, BMX freestyler ternama yang saat ini tergabung dalam 76Rider BMX Freestyle, butuh keinginan dan motivasi dari dalam bagi seseorang untuk menekuni extreme sport yang satu ini.

Menurut Wendy, biasanya, orang tua akan lebih memilih untuk mengarahkan anaknya ke BMX race, atau cabang olahraga sepeda yang lain seperti mountain bike atau downhill, dengan penjenjangan dan kejuaraan yang jelas dari tingkat nasional sampai internasional.

“Selain itu pola latihan juga lebih jelas dan kebangun di BMX race. Beda sama BMX freestyle yang lebih ke arah lifestyle atau gaya hidup,” ujar Wendy yang mengapresiasi 76Rider karena telah memberikan wadah, kesempatan dan ruang bagi atlet BMX freestyle untuk tumbuh dan berkembang.

Meski berupa panggilan hati, menurut Wendy, yang penting bagi orang tua adalah memperkenalkan dulu olahraga sepeda ini sedini mungkin.

“Caranya ya memperkenalkan dulu si anak dengan sepeda. Misalnya menggunakan pushbike untuk melatih keseimbangannya dulu sampai si anak enjoy dan bisa bersepeda. Dan ini bisa dilakukan sejak usia 3 tahun atau sedini mungkin,” tutur Wendy.

Dari kegemaran bersepeda inilah, lambat laun akan muncul ketertarikan untuk lebih profesional lagi. “Perkara nanti si anak lebih memilih ke cabang olahraga sepeda yang mana, itu tergantung orang tua atau bisa juga si anak yang didukung orang tuanya. Tapi yang jelas enggak bisa dipaksakan,” tutur Wendy.

Nah ketika sudah ditentukan arahnya mau kemana, baru ditetapkan konsep latihan yang rutin, konsisten dan terarah.

“Jadi harus di-planning. Perkara frekuensinya setiap hari atau seminggu sekali, silakan saja. Yang penting konsisten dan terarah. Maksudnya dibarengi dengan pola makan-istirahat yang benar, latihan fisik, pemanasan, dan sebagainya. Paling penting ada planning yang jelas dan target yang ingin diraih. Misalnya kalau untuk BMX freestyle, ditentukan trik apa yang akan dipelajari dulu, diikuti dengan perencanaan lainnya.

“Kalau semua sudah ter-planning dengan baik dan konsisten, biasanya si anak akan mudah nangkap karena dia tahu arahannya,” kata Wendy.

Satu lagi yang jadi kendala latihan BMX freestyle adalah tidak adanya pelatih atau mentor resmi. “Biasanya si anak berlatih secara mandiri dan otodidak lewat video. Karena itu sangat penting ada teman berlatih atau sparing partner, supaya bisa dijadikan acuan berlatih,” tutur Wendy.

Saat ditanya 76Rider, apakah Wendy tidak tertarik untuk jadi pelatih BMX freestyle, pria yang sering ditunjuk menjadi juri ini mengatakan, hal itu sudah dilakukannya meskipun tidak secara formal.

“Ketika jadi mentor pun saya tidak pernah mematok besaran honor. Punya anak didik banyak yang mau latihan serius saja udah cukup menyenangkan buat saya. Perkara nanti ada yang mau bayar, bagi saya itu bonus,” kata Wendy yang sempat melatih banyak peminat BMX freestyle ini di Janti Airbag, sarana berlatih yang didirikannya bersama para penggiat BMX freestyle lain dan disupport 76Rider.

Sayang karena sewa pemakaian lokasi berakhir, maka untuk sementara ini atau sejak Oktober 2020 lalu Janti Airbag masih non aktif. (BM)



MORE STORIES