Downhill Bike

Memilih Sepeda MTB Bagi Pemula, Full Bike atau Custom?

| 25 October 2020

Ada dua cara untuk mendapatkan sepeda, bisa beli jadi atau istilahnya full bike, atau merakit sendiri alias custom. Lebih tepat yang mana ya buat MTB atau sepeda gunung?
Menurut Khoiful Mukhib, atlet downhill kelahiran Jepara, 15 Desember 1990 yang menyandang gelar Juara Nasional 2018, dan juga Peraih Emas Asian Games 2018, termasuk pemegang juara overall Men Elite A Indonesian Downhill berturut-turut tiga tahun terakhir ini, masing-masing punya plus - minus. “Tapi kalau dikembalikan ke saya, full bike lebih baik,” buka  Mukhib.
 
Lebih lanjut Mukhib menjelaskan alasannya. Sepeda yang dibeli secara full bike, secara kualitas memang kalah dibanding rakitan sendiri. “Sepeda yang dibeli secara full bike ini dirakit secara massal atau borongan sesuai harga jual di pasaran. Karena itu, secara bahan, ukuran, fitur, kekuatan, dan lain-lain dipukul rata. Beda dengan kalau merakit sendiri. Kita bisa memilih komponen yang lebih bagus dalam hal tadi, bahan, ukuran, fitur, kekuatan, dan mungkin warna yang kita suka. Tapi konsekuensinya, harga bisa jauh lebih mahal,” jelas Mukhib sambil mencontohkan, untuk MTB, bearing atau laher yang punya kualitas wahid harganya bisa sampai Rp 3 juta.
 
Meski demikian, ketika diberikan perumpamaan dan kebebasan memilih full bike atau custom tanpa mempertimbangkan masalah keuangan, Mukhib tetap akan memilih full bike. “Itu kalau tujuannya memilih sepeda untuk pemula ya. Artinya untuk seseorang yang memiliki ketertarikan mendalami MTB sampai ke level pro,” tegas Mukhib.
Kenapa bisa begitu? Mukhib kembali menjelaskan, pemula butuh tahapan belajar. Kalau pemula ini langsung dikasih sepeda bagus, mereka nggak akan bisa membandingkan peningkatan skill-nya.
 
“Jadi sebaiknya mereka diberi kesempatan belajar dulu menghadapi kesulitan sesuai kemampuannya. Baru ketika skill-nya berkembang, kita ikuti dengan sepeda dengan kualitas yang juga berkembang, dengan kesulitan obstacle yang juga berkembang. Jadi semua seiring sejalan peningkatannya,” tutur Mukhib.
 
Hanya saja ketika membeli sepeda secara full bike ini, Mukhib mengingatkan untuk benar-benar menyesuaikan tinggi badan si pemula ini dengan size atau ukuran panjang frame sepeda.
“Sebab kalau ukuran panjang frame terlalu pendek atau panjang, malah akan menyulitkan si pemula ini. Sepeda susah dikendalikan, si pemula tidak merasa nyaman dan sebagainya. Malah kadang bisa bikin celaka,” wanti Mukhib sambil menambahkan soal size rangka sepeda ini bisa dikonsultasikan dengan merek atau penjual karena masing-masing punya tabel ukuran yang berbeda.
 
“Tinggi badan saya 163 cm. Ketika saya mengikuti kejuaraan Downhill di Asian Game, saya pakai Polygon N9 seri UR size M. Frame ini lebih panjang ketimbang Polygon N9 Xquareone size M yang saya pakai di event 76 Indonesian Downhill,” contoh Mukhib. (BM)

Share this story:

CHECK OUT OTHER STORIES

The Radial Rebellion: Why 2026 Tires Feel Different

Tahun 2026 menandai perubahan besar dalam dunia downhill. Ban bukan komponen pasif, tapi bagian... read more

#76Rider DH Squad

How Pros Stay Balanced on Steep Sections

Dalam downhill, turunan curam adalah momen kontrol menjadi segalanya, bukan berapa cepat lo turun,... read more

#76Rider DH Squad

The Robot Revolution: Electronic Suspension Hits Downhill

Dalam beberapa tahun terakhir, satu tren teknologi yang mulai menggema di dunia MTB adalah... read more

#76Rider DH Squad