Dimas | 14 September 2026
Dalam downhill, ada race run yang sekadar menghasilkan kemenangan, tetapi ada juga run yang mengubah cara dunia melihat seorang rider. Salah satu contoh paling terkenal adalah Aaron Gwin di Leogang, Austria, pada UCI Downhill World Cup 2015, ketika rantainya putus tepat setelah start namun dia tetap melanjutkan perlombaan dan meraih kemenangan seperti yang dijelaskan oleh Pinkbike.
Gwin sebenarnya berada dalam situasi yang hampir mustahil karena tanpa rantai, dia kehilangan kemampuan untuk mengayuh, tetapi dia memilih tetap ofensif dengan memanfaatkan momentum, pumping, braking, dan karakter trek Leogang. Pinkbike melaporkan bahwa Gwin bahkan mencatat kecepatan tertinggi di speed trap, lebih dari 3 km/jam lebih cepat dibanding rivalnya.
Kemenangan tersebut menjadi semakin dramatis karena kondisi angin di Leogang membuat banyak rider kehilangan sekitar 4–5 km/jam di speed trap dibandingkan sesi latihan, sehingga mempertahankan momentum menjadi semakin penting seperti yang dijelaskan oleh Pinkbike.
Gwin akhirnya memenangkan kategori EliteMen dengan Connor Fearon di posisi kedua, dan kemenangan tersebut kemudian dipilih sebagai Highlight of theYear dalam Pinkbike Awards 2015. Dilansir Pinkbike, penghargaan tersebut memperkuat status run tanpa rantai Gwin sebagai salah satu momen paling memorable dalam sejarah downhill modern.
Contoh lain datang dari Danny Hart di Champéry, Swiss, pada World Championships 2011, ketika rider Inggris berusia 19 tahun tersebut menghadapi trek yang sangat basah, curam, dan penuh lumpur. Dilansir Pinkbike, Hart tidak hanya memenangkan gelar juara dunia, tetapi mencatat waktu 11,699 detik lebih cepat daripada Damien Spagnolo di posisi kedua.
Yang membuat run Hart begitu ikonis adalah keberaniannya menyerang trek ketika banyak rider kesulitan mempertahankan kontrol di permukaan licin. Pinkbike menggambarkan penampilannya sebagai sebuah mahakarya downhill dan mencatat bahwa Hart memiliki waktu untuk melakukan aksi di bagian jump terakhir setelah unggul lebih dari 11 detik.
Dampak run tersebut bertahan jauh setelah balapan selesai, karena pada 2025 Pinkbike kembali mengulas kemenangan Champéry melalui kisah Hart, Greg Minnaar, Aaron Gwin, dan sejumlah tokoh yang menyaksikan langsung momen tersebut. Artikel tersebut bahkan menyebut run Hart sebagai salah satu penampilan downhill terbesar yang pernah terjadi.
Kedua cerita tersebut menunjukkan bahwa race run yang membuat seorang rider terkenal tidak selalu lahir dari kondisi ideal. Gwin menghadapi kerusakan mekanis sejak start, sedangkan Hart menghadapi trek berlumpur yang membuat banyak rider kehilangan waktu dan kontrol, tetapi keduanya mampu mengubah masalah menjadi kesempatan untuk menunjukkan karakter mereka seperti yang tertera di platform Pinkbike.
Stopwatch hanya mencatat angka, sementara dunia downhill mengingat cerita di balik angka tersebut. Ketika seorang rider mampu menghasilkan run luar biasa dalam situasi yang tampaknya mustahil, satu menit di atas sepeda dapat menjadi momen yang mengubah karier dan membuat namanya dikenang jauh setelah race berakhir.
Downhill memasuki era baru. Setelah nama-nama seperti Loïc Bruni, Amaury Pierron, dan Jackson Goldstone... read more
#76Rider DH Squad
Menjadi rookie di dunia downhill bukan hanya soal memiliki sepeda tercepat atau berani melaju... read more
#76Rider DH Squad
Setiap cabang olahraga memiliki panggung impian. Di dunia mountain bike, nama Whistler identik dengan... read more
#76Rider DH Squad