Wendy Berbagi Keseruan Jadi Juri IOXC: Adu Argumentasi Sama Juri Asing

Wendy Berbagi Keseruan Jadi Juri IOXC: Adu Argumentasi Sama Juri Asing

Home » Stories » Wendy Berbagi Keseruan Jadi Juri IOXC: Adu Argumentasi Sama Juri Asing
Boyo Maladi | 12 January 2022

Indonesia Open X-Sports Championship atau IOXC adalah perlombaan olahraga ekstrem berskala internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, dan saat ini dikenal sebagai perlombaan terbesar di kawasan Asia Tenggara maupun di Asia.

Pada gelarannya tiap tahun, beragam olahraga ekstrem dipertandingkan, seperti BMX Freestyle, Aggressive Inline, Skateboard, Freestyle Soccer, Freestyle Basketball, hingga Breaking.

Wendy Purnama Putra, atlet BMX freestyle yang tergabung dalam 76Rider Squad beberapa kali mengikuti perlombaan ini.

 “Pertama ikut tahun 2009 di Lapangan Karebosi – Makasar sampai tahun 2017 saya enggak main lagi,” buka atlet BMX freestyle asal Jogja.

“Sebab saya akhirnya didapuk jadi juri tahun 2017, 2018, hingga sebelum pandemi. Karena jadi juri, maka saya nggak main lagi,” ungkap Wendy menjelaskan alasan dirinya tidak bermain lagi di IOXC

Lebih lanjut Wendy menceritakan pengalamannya menjadi juri IOXC, yang menurutnya semakin banyak diikuti peserta, tak hanya dari Asia Tenggara, tapi juga Asia dan Australia, hingga negara Eropa seperti Prancis.

Karena IOXC telah berkembang menjadi kejuaraan international extreme sports, maka selain melibatkan tiga juri nasional, juga mendatangkan dua juri asing. Di sini keseruan Wendy selama menjadi juri IOXC. Terutama ketika menjuri bersama juri dari Filipina dan Malaysia.

“Jadi seru sebab selain adu argumentasi pakai bahasa Inggris, kadang mereka pakai bahasa masing-masing. Terutama ketika mereka berkomunikasi dengan pemain sesama negara,” kata Wendy sambil menambahkan saat itu ada 5 juri yang bertugas. 

Dari perwakilan Indonesia terdapat juri dari Jakarta, Bandung, dan Jogja, sementara dua juri lainnya berasal dari Filipina dan Malaysia.

Soal adu argumentasi Wendy menjelaskan bahwa meskipun indikator penjurian sudah ditentukan, seperti style, line, hard trick, running, hingga finishing, dan skala poin 30 – 90, namun tetap saja unsur subyektif dalam penilaian ikut terlibat.

“Yang sering adu argumentasi pada poin yang diberikan untuk trik dan style. Mereka kadang beri poin kecil karena alasan trik yang dibawakan kurang perfect. Padahal menurut kami sudah bagus. Begitu pula sebaliknya,” tutur Wendy.

Ada juga kejadian adu argumentasi yang dipicu lobbying peserta ke juri. 

“Ya meskipun mereka pakai bahasa mereka, tapi kita bisa tahu ketika seorang peserta coba melakukan lobbying pada juri yang dikenalnya. Ini yang kemudian kita protes dan kadang lewat adu argumentasi,” senyum Wendy.

Namun semua pengalaman tersebut bagi Wendy adalah sebuah kehormatan bisa menjadi juri untuk event bergengsi seperti IOXC.

“Jadi saya cukup senang bisa mendapat kehormatan sebagai juri, meskipun konsekuensinya nggak boleh ikut main lagi,” pungkasnya. (BM)



MORE STORIES